Detiksorotan.com,Jakarta– Suasana damai di Gereja HKBP Sudirman, Jakarta, mendadak berubah menjadi sorotan publik setelah terjadi dugaan kecurangan dalam pertandingan catur khusus untuk Kaum Ama (kaum bapa) yang digelar pada Sabtu, 11 Oktober 2025, pukul 14.00 di Ruang Lewi, lantai 2 gereja tersebut.
Pertandingan yang sejatinya bertujuan mempererat persaudaraan antar jemaat itu justru diwarnai dugaan pelanggaran aturan permainan. Dalam pertandingan antara peserta berinisial RT melawan PS, diduga terjadi perbuatan curang ketika PS menjalankan raja dua langkah sekaligus, padahal langkah tersebut jelas bertentangan dengan hukum permainan catur.
Saksi di tempat kejadian, yaitu TS dan GMS, sempat melayangkan protes atas pelanggaran itu. Namun, pihak PS tetap memaksakan hasil seri (remis). Lebih disayangkan lagi, lawan tanding PS—yang diketahui hanya seorang juru parkir—tidak dapat melakukan protes karena keterbatasan kemampuan berbicara. Situasi tersebut menimbulkan kesan bahwa kecurangan dibiarkan terjadi terhadap pihak yang lemah.
Menanggapi peristiwa tersebut, Ketua Umum LSM Komite Anti Korupsi Indonesia (KAKI) sekaligus Ketua Dewan Kehormatan Jakarta LBH Garda Nasional, Ganda Sirait, S.H., M.H., angkat bicara tegas. Ia menyayangkan adanya pembiaran terhadap tindakan curang yang dilakukan di tempat ibadah, yang seharusnya menjadi simbol kebenaran dan kejujuran.
“Sebaiknya pertandingan catur antara RT melawan PS diulang, menimbang pertandingan dilakukan di Bait Allah, Rumah Suci umat Kristen, di mana segala bentuk kecurangan atau kejahatan harus dihapuskan dan diberantas,” tegas Ganda Sirait.
Lebih lanjut, Ganda Sirait menegaskan bahwa perbuatan curang merupakan bentuk kejahatan moral dan spiritual, sebagaimana diingatkan dalam firman Tuhan. Ia mengutip 1 Korintus 6:9, “bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah,” serta Ulangan 25:16, “Setiap orang yang berbuat curang adalah kekejian bagi Tuhan, Allahmu.”
Menurutnya, Alkitab secara jelas melarang segala bentuk kecurangan, baik dalam hal materi, moral, maupun relasi antar manusia. Kecurangan dianggap sebagai kekejian di hadapan Tuhan dan merusak integritas individu serta harmoni dalam komunitas.
“Kebenaran dan keadilan harus ditegakkan, meskipun langit runtuh,” tutup Ganda Sirait dengan penuh keyakinan.
Kasus ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi seluruh umat untuk menjunjung tinggi nilai sportivitas, kejujuran, dan keadilan, terutama di lingkungan gereja yang menjadi simbol kesucian dan kasih Tuhan.(®)